Seuntai kata hati dan pikiran Gw:

Bukan karena cantik dia pantas dicintai, tapi karena cinta lah yang menjadikannya tampak cantik. @13/08

Tanya-tanya mbah Google

20 Januari 2008

Maaf Kan Suharto "!" atau "?"

Memaafkan adalah sikap yang sangat mulia. Seseorang yang bersifat pemaaf, dijamin hidupnya tentram, tak pernah dibayang-bayangi oleh rasa dendam dan otaknya dijamin msih lega buat nyimpen ilmu-ilmu yang berguna, karena tidak terisi oleh kenangan-kenangan kesalahan orang lain. Saya yakin, setiap agama (sore Gw cuma beragama Islam, gak Kristen, Hindu, Budha atau lainnya) pasti mengajarkan umatnya untuk menjadi seorang yang pemaaf. Begitu pula Tuhan (saya hanya menganggap ada satu tuhan = Allah SWT, bagi semua manusia, hewan, tumbuhan, batu, pokoknya semuanya) pasti bersikap pemaaf.

Kalo melihat inti dari pembicaraan paragraf diatas mungkin kita berpikir: "Mari maafkan Suharto". Sungguh mulia kita bila bisa memaafkan orang yang pernah berbuat salah, dan semoga kita-pun akan dimaafkan Allah dari segala dosa kita padanya (amin). Saya sangat setuju dengan sikap memaafkan Bp.Suharto, yang telah (langsung maupun tidak) membawa Indonesia lebih maju (dalam beberapa hal). Tetapi sebelum kita memaafkan seseorang, ada baiknya kita telisik dulu apa itu maaf.

Maaf akan muncul bila memang ada sebuah kesalahan yang dilakukan pihak pelaku terhadap pihak penderita, baik disengaja maupun tidak disengaja, baik terasa maupun tidak terasa. Sebagai contoh, kita melakukan kesalahan kepada Allah SWT dengan tidak mengindahkan anjurannya (misal beribadah tepat waktu) baru lah kita bisa dimaafkan-Nya. Tak mungkin bila seseorang yang beribadah tepat waktu akan dimaafkan Allah karena telat (maupun tidak) beribadah. Dalam aturan agama, pihak yang berhak mengatakan kita bersalah adalah Allah SWT, walaupun Ia telah merangkumnya dalam Kitab-kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Hal ini menyebabkan kita sering tidak saadaar telah melakukan kesalahan (Karena pihak yang berwenang menyatakan salah tidak langsung mengatakan salah kepada kita).

Kembali kepada kasus Bp. Suharto, kasus yang terjadi adalah KKN, dimana ini merupakan kesalahan dalam aturan pemerintahan (dalam hal ini pemerintahan Indonesia), maka pihak yang berhak mengatakan bersalah adalah Pengadilan RI. Pengadilan RI jelas bisa langsung mengatakan bersalah, dan Kita bisa mengetahui apakah memang Bp. Suharto bersalah atau tidak.
Jadi sebelum kita memaafkannya, seharusnya ditunggu dulu keputusan bersalah atau tidak dari yang berwenang.

Dalam aturan agama, bila kita melakukan kesalahan, maka ada cara agar kita dimaafkan Allah. Bila kita tidak melakukannya, maka kita bisa dihukum sesuai aturan-Nya. Dalam Islam (agama saya), seseorang yang berzina maka akan dihukum di akhirat nanti, dengan dimasukan ke Neraka dan menjalani masa tahanan di neraka serta kerja (siksa) paksa sesuai dengan kesalahannya. tetapi dalam hal berzina, Allah SWT telah memberi keringanan untuk memaafkan, yaitu dengan cara dirajam (sesuai aturan, syarat, dan kondisi yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW).

Kembali kepada kasus Bp. Suharto, kasus yang terjadi adalah kasus kesalahan dalam aturan pemerintahan RI. Di Negara Republik Indonesia ini juga ada aturan-aturan untuk hal per-maaf-an pelaku kesalahan. Pihak yang berwenang memaafkan (atas nama bangsa dan negara RI) seorang pelaku kesalahan adalah Presiden RI, dan didalam UUD presiden bisa memberikan maaf, berupa pengurangan masa hukuman, penghapusan hukuman, dan lainnya (kalo gak salah ada 4, tapi Gw lupa). Tetapi semua itupun ada aturan, syarat, dan kondisi yang telah ditetapkan.

Selain kesalahan terhadap Allah, ada juga kesalahan terhadap individu. Dalam kasus kesalahan terhadap individu, pihak yang dapat menyatakan bersalah adalah individu yang menderita, atau sipelakunya. sehingga dalam hal ini, kedua pihak bisa memulai proses per-maaf-an. begitu juga dalam kasus Bp. Suharto, pasti dia pernah melakukan kesalahan terhadap beberapa (entah banyak atau sedikit) individu warga Indonesia. Kasus ini lah yang bisa langsung kita maafkan (secara individu).

Kesimpulan dari post ini adalah: sudah menjadi kewajiban kita memaafkan kesalahan Bp. Suharto kepada kita (sebagai individu) dan alangkah bijaknya bila kita tidaak menerapkan aturan, syarat, dan kondisi yang aneh-aneh untuk memaafkan Bp. Suharto. Tetapi dalam hal kesalahan dalam aturan pemerintahan (KKN), Bp. Suharto harus menjalani pengadilan dulu (sampai diputuskan bersalah), baru Presiden bisa mempertimbangkan (jangan lupa minta masukan dari sana sini) untuk memaafkannya atau tidak.

Bagikan tulisan ini di Facebook Anda

0 komentar:

Posting Komentar

Daftar Komentar Terbaru

Daftar Blog-Blog Gw

Blog Yg Biasa Gw Kunjungin (selain yg ada di side bar):